Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Dia Percaya (Cerita dari Fariz)

Dia Percaya Ayah, Ibu, percayakah kalian padaku? Aku seperti ini adanya. Aku tak sebaik mereka. Tak sepintar mereka. Tak semengagumkan mereka. Maafkan aku. Ayah, kau mengajarkanku untuk jadi laki-laku pemberani. Melatihku agar pandai berenang, nyatanya hingga kini aku masih takut tenggelam. Membuatku agar rajin belajar, nyatanya hingga kini aku tidak pernah juara kelas. Yang aku tau hanya memegang benda kecil ini, yang ukurannya tak lebih besar dari buku tulisku semasa sekolah. Tapi ini yang membuatku bahagia. Membuatku dihargai. Membuat aku merasa berguna menjadi manusia. Maafkan aku. Ibu, kau mengajarkanku bagaimana menjadi lelaki bertanggungjawab. Aku gagal di ujianku masuk perguruan tinggi yang kau ingin menempuh pendidikan di sana dulu kala. Aku melawan perintamu agar aku bagun pagi dan tidur sebelum jam 10 malam. Aku terlalu lelah berkelana siang hari dan belum pulang di malam petang. Maafkan aku. Ibu, Ayah, bagaimana aku bisa tetap hidu...

Janji Kak Fariz

“Kinara, apa kabar?” Kak Faris baru sms. Setelah 1 bulan kepindahanku kemari. “Baik.” “Kamu kemana aja ga pernah hubungi aku?” Kemana aja ga pernah hubungi ? Di sini siapa yang tidak menghubungi siapa? Tidak adil sekali jika dia mengatakan begitu. Okelah mungkin aku bisa menghubungi duluan. Tapi apa salahnya dia dulu. Hei… aku perempuan!!! Siapa diriku harus menghubungimu dulu? Siapa dirimu harus kuhubungi dulu? Iya, kita memeng bukan siapa-siapa dan tak memiliki hubungan apa-apa untuk saling menghubungi. Dua menit… 5 menit… aku diamkan. Logika memaksaku untuk tidak membalas, tapi hati ini dalam diamnya ingin. Dengan ragu aku memainkan keyboard hp. Terlambat, Kak Fariz mengirim sms lagi. “Kinar, aku sekarang kerja di majalah fashion. Jadi fotografer. Aku pernah janji mau traktir kamu kan kalau dapet kerja baru. Tapi kamu berada jauh.” Sebenarnya aku turut bahagia, menjadi fotografer, bermain-main dengan lensa dan gambar adalah cintanya. Tapi aku ingin biasa saja. B...