Janji Kak Fariz
“Kinara, apa kabar?”
Kak Faris baru sms. Setelah 1 bulan
kepindahanku kemari.
“Baik.”
“Kamu kemana aja ga pernah hubungi
aku?”
Kemana aja ga
pernah hubungi? Di sini siapa
yang tidak menghubungi siapa? Tidak adil sekali jika dia mengatakan begitu.
Okelah mungkin aku bisa menghubungi duluan. Tapi apa salahnya dia dulu. Hei…
aku perempuan!!! Siapa diriku harus menghubungimu dulu? Siapa dirimu harus
kuhubungi dulu? Iya, kita memeng bukan siapa-siapa dan tak memiliki hubungan
apa-apa untuk saling menghubungi.
Dua menit… 5 menit… aku diamkan. Logika
memaksaku untuk tidak membalas, tapi hati ini dalam diamnya ingin. Dengan ragu
aku memainkan keyboard hp. Terlambat, Kak Fariz mengirim sms lagi.
“Kinar, aku sekarang kerja di majalah
fashion. Jadi fotografer.
Aku pernah janji mau traktir kamu kan
kalau dapet kerja baru. Tapi kamu berada jauh.”
Sebenarnya aku turut bahagia, menjadi
fotografer, bermain-main dengan lensa dan gambar adalah cintanya. Tapi aku
ingin biasa saja. Buat apa bilang begitu kalau bukan cuma untuk pamer. Toh, dia
tidak akan menepati janjinya. Aku yang harus datang padanya. Bukan dia yang
datang atau menjemputku. Seperti sebelum-sebelumnya. Aku ingin sekali-kali dia
yang berjuang. Aku ingin dia yang datang.
“Selamat, Kak :)”
“Cuma selamat? Tunggu ya kalau aku ada
pemotretan ke Medan! Aku janji!”
Aku membuang
nafas, bibirku tertarik ke kiri dan ke kanan, senyum, tapi mataku diam.
Kalaupun dia datang ke sini, pasti dia lupa.
“Ga usah maksain, Kak! Aku ga akan
nagih kok”
Selesai. Tidak ada percakapan lagi. Mungkin untuk
ada percakapn yang lain menunggu waktu berhari-hari lamanya. Mungkin lebih.
Apalagi kalau aku sudah lelah. Tubuh ini sudah lelah, otak ini juga. Tapi hati
ini begitu mudahnya berganti.
Sejujurnya aku sangat merindukan Kak Fariz.
Seenaknya saja dia bermain-main dengan hati ini. Datang dan pergi sesuka dia.
Ah, sudahlah! Tubuhku sudah jauh, pikiran dan hatiku juga harus! Akan kucoba,
semoga Tuhan membantuku. Semoga ada cara, semoga ada jalan.
Kamu.
Siapa kamu sebenarnya?
Dalam sekejap bisa menguasai hatiku.
Menjajah dan memonopoli sesukamu.
Kau pikir kau rajaku?
Kau pikir aku milikmu?
Karena kadang aku berharap begitu.
Dan jauh dalam hati,
hari itu aku tunggu
Tituut..tituut… Ada telepon. Ziddan.
“Hallo,
Assalamualaiakum.”
“Wa’alaikumsalam.
Cepet..!! Aku di bawah!”
“Iya..iya tunggu.”
Komentar