Laporan BIOKIMIA 1 : Uji Kuantitatif Lipid
I. JUDUL PERCOBAAN : Uji Kuantitatif Lipid
II.
HARI/TANGGAL PERCOBAAN :
Selasa/ 18 November 2014
III.
SELESAI PERCOBAAN :
18 November 2014
IV.
TUJUAN :
1. Menentukan angka peroksida pada minyak kelapa sawit
2. Menentukan asam lemak bebas pada minyak kelapa sawit
V.
DASAR TEORI
·
Lipid
Pengertian
Lipid
Lipida (dari
kata Yunani, Lipos, lemak) dikenal oleh masyarakat awam sebagai minyak
(organik, bukan minyak mineral atau minyak bumi), lemak, dan lilin. Istilah
"lipida" mengacu pada golongan senyawa hidrokarbon
alifatik nonpolar
dan hidrofob, yang esensial dalam menyusun struktur dan menjalankan fungsi
sel hidup. Karena nonpolar, lipida tidak larut dalam pelarut polar,
seperti air atau alkohol, tetapi larut dalam pelarut nonpolar, seperti eter
atau kloroform.
Sifat
Lipid
1.
Tidak larut
dalam air
2.
Larut dalam
pelarut organik seperti eter, kloroform, dan benzena
Jenis-Jenis Lipid
Terdapat
beberapa jenis lipid yaitu:
a.
Asam lemak, terdiri atas asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Asam
lemak merupakan asam monokarboksilat rantai panjang. Adapun rumus umum dari
asam lemak adalah:
CH3(CH2)nCOOH
atau CnH2n+1-COOH
Rentang ukuran dari asam lemak adalah C12 sampai dengan
C24. Ada dua macam asam lemak yaitu:
1.
Asam
lemak jenuh (saturated fatty acid).
Asam lemak ini tidak memiliki ikatan rangkap.
2.
Asam lemak tak jenuh (unsaturated
fatty acid). Asam lemak ini memiliki satu atau lebih ikatan rangkap
b.
Gliserida, terdiri atas gliserida netral dan
fosfogliserida. Gliserida netral adalah ester antara asam lemak dengan
gliserol. Fungsi dasar dari gliserida netral adalah sebagai simpanan energi
(berupa lemak atau minyak). Setiap gliserol mungkin berikatan dengan 1, 2 atau
3 asam lemak yang tidak harus sama. Jika gliserol berikatan dengan 1 asam lemak
disebut monogliserida, jika berikatan dengan 2 asam lemak disebut digliserida
dan jika berikatan dengan 3 asam lemak dinamakan trigliserida. Trigliserida
merupakan cadangan energi penting dari sumber lipid.
Apa
yang dimaksud dengan lemak (fat) dan minyak (oil)? Lemak dan
minyak keduanya merupakan trigliserida. Adapun perbedaan sifat secara umum dari
keduanya adalah:
· Lemak
-
Umumnya diperoleh dari hewan
-
Berwujud padat pada suhu ruang
-
Tersusun dari asam lemak jenuh
· Minyak
-
Umumnya diperoleh dari tumbuhan
- Berwujud cair pada suhu ruang
- Tersusun dari asam lemak tak jenuh
c.
Lipid
kompleks, terdiri
atas lipoprotein dan glikolipid. Lipid kompleks adalah kombinasi antara lipid
dengan molekul lain. Contoh penting dari lipid kompleks adalah lipoprotein dan
glikolipid.
d.
Non
gliserida, terdiri
atas sfingolipid, steroid dan malam. Lipid jenis ini tidak mengandung gliserol.
Jadi asam lemak bergabung dengan molekul-molekul non gliserol. Yang termasuk ke
dalam jenis ini adalah sfingolipid, steroid, kolesterol dan malam.
Minyak dan
Lemak adalah
istilah umum untuk semua cairan organik yang tidak larut/bercampur dalam
air(hidrofobik) tetapi larut dalam pelarut organik. Minyak adalah istilah untuk
lipid yang bukan berasal dari hewan. Sedangkan Lemak secara khusus
menjadi sebutan bagi minyak hewani pada suhu ruang, lepas dari wujudnya yang
padat maupun cair, yang terdapat pada jaringan tubuh yang disebut adiposa.
Minyak dan
lemak termasuk salah satu anggota dari golongan lipida. Lipid itu sendiri di
klasifikasikan menjadi 4 yaitu: Lipid Netral, Fosfalipid, Spingolipid dan
Glikolipida.
- Lipid netral adalah trigliserida yang terbuat
dari 3 asam lemak dikaitkan dengan gliserol dan tidak memiliki kelompok kutub.
- Spingolipid adalah kelompok lipid yang struktur
utamanya adalah rantai panjang amino alkohol sphingosin.
- Fosfalipid adalah kelompok lipid
yang pada gugus asam lemaknya mengandung senyawa phosphat.
- Glikolipida adalah suatu lipida kompleks yang
mengandung senyawa karbohidrat.
Lemak dan
minyak merupakan senyawaan trigliserida atau triasgliserol, yang berarti
“triester dari gliserol” . Jadi lemak dan minyak juga merupakan senyawaan
ester. Hasil hidrolisis lemak dan minyak adalah asam karboksilat dan gliserol .
Asam karboksilat ini juga disebut asam lemak yang mempunyai rantai hidrokarbon
yang panjang dan tidak bercabang.
Definisi minyak goreng menurut SNI 01 :3741-2002 adalah
bahan pangan dengan komposisi utama trigliserida berasal dari bahan
nabati, dengan atau tanpa perubahan kimiawi, termasuk hidrogenasi, pendinginan
dan telah melalui proses pemurnian. Terdapat dua jenis minyak goreng yang
beredar dipasaran berdasarkan jenis kemasannya yaitu biasa disebut minyak goreng
kemasan dan minyak goreng curah. Menurut penelitian minyak goreng curah mudah
terkontaminasi oleh udara dan air (teroksidasi) yang menimbulkan ketengikkan
sehingga mempengaruhi cita rasa dan daya simpan minyak goreng tersebut.
(Sudarmaji, S, 1989).
Pada umumnya lemak apabila dibiarkan lama diudara akan
menimbulkan akan terjadi perubahan yang dinamakan proses ketengikan. Hal ini
disebabkan terjadi proses oksidasi terhadap asam lemak tidak jenuh. Oksigen akan
terikat pada ikatan rangkap dan membentuk peroksida aktif. Senyawa
ini sangat reaktif dan dapat membentuk hidroperoksida yang bersifat sangat
tidak stabil dan mudah pecah menjadi senyawa dengan rantai karbon yang lebih
pendek berupa asam-asam lemak, aldehida-aldehida dan keton yang bersifat
volatil/ mudah menguap, menimbulkan bau tengik pada lemak dan potensial
bersifat toksik.. reaksi terjadi perlahan pada suhu menggoreng normal dan
dipercepat oleh adanya sedikit besi dan tembaga yang biasa ada dalam makanan.
Minyak yang digunakan untuk menggoreng pada suhu tinggi atau dipakai berulang
kali akan menjadi hitam dan produk oksidasi akan menumpuk.
Mekanisme reaksi oksidasi asam lemak adalah :
Gambar 1. Mekanisme reaksi oksidasi pada asam lemak tak jenuh
(Winarno, 1992).
Pada analisa bilangan peroksida dalam minyak goreng
digunakan metode titrasi redoks dengan titrasi yang melibatkan iodium. Uji
peroksida dilakukan untuk menentukan derajat ketidak jenuhan asam lemak. Iodium
dapat bereaksi dengan ikatan rangkap dalam asam lemak. Tiap molekul iodium
mengadakan reaksi adisi pada suatu ikatan rangkap. Oleh karenanya makin banyak
ikatan rangkap, makin banyak pula iodium yang dapat bereaksi.
Penentuan bilangan peroksida dengan Iodometri ini didasarkan
pada pengukuran sejumLah iod yang dibebaskan dari kalium iodida melalui reaksi
oksidasi oleh peroksida dalam lemak atau minyak pada suhu ruang di dalam medium
asam asetat- kloroform. Bilangan peroksida minyak goreng curah teoritis adalah
4,187 (Oktaviani, 2009).
Reaksi-
Reaksi Lipid
1. Hidrogenasi Minyak.
Ikatan
rangkap pada minyak dapat dijenuhkan dengan cara hidrogenasi sehingga menjadi lemak padat.
Untuk
menunjukkan derajat ketidakjenuhan asam (banyaknya ikatan rangkap) dinyatakan
dengan angka yod, yaitu angka yang menyatakan banyaknya gram yodium yang dapat
diadisikan pada 100 gram lemak.
2.
Reaksi Penyabunan. Reaksi antara gliserida dengan basa
menghasilkan sabun dikenal dengan reaksi penyabunan (saponifikasi).
Sabun
yang mengandung logam Na (dari lemak + NaOH) disebut sabun keras (sabun cuci),
sedang yang mengandung logam K disebut sabun lunak (sabun mandi). Untuk
menyatakan banyaknya asam yang terkandung dalam lemak digunakan reaksi
penyabunan dengan KOH, yang dinyatakan dengan angka penyabunan, yaitu angka
yang menunjukkan berapa mg KOH yang digunakan uuntuk menyabunkan 1 gram lemak.
3. Reaksi Hidrolisis. Dengan adanya enzim
lipase, lemak atau minyak dapat mengalami hidrolisis oleh air pada suhu kamar.
· BILANGAN PEROKSIDA
Angka
peroksida atau bilangan peroksida merupakan suatu metode yang biasa digunakan
untuk menentukan degradasi minyak atau untuk menentukan derajat kerusakan
minyak. Berapa standar mutu minyak goreng yang baik bagi tubuh??
Di
Indonesia standar mutu minyak goreng ditentukan melalui SNI 01-3741-1995
yaitu sebagai berikut :
Bilangan peroksida adalah indeks jumLah lemak atau minyak yang
telah mengalami oksidasi Angka peroksida sangat penting untuk identifikasi
tingkat oksidasi minyak. Minyak yang mengandung asam- asam lemak tidak
jenuh dapat teroksidasi oleh oksigen yang menghasilkan suatu senyawa
peroksida. Cara yang sering digunakan untuk menentukan angka peroksida
adalah dengan metoda titrasi iodometri. Penentuan besarnya angka peroksida
dilakukan dengan titrasi iodometri.
Salah satu parameter penurunan mutu minyak goreng adalah
bilangan peroksida. Pengukuran angka peroksida pada dasarnya adalah mengukur
kadar peroksida dan hidroperoksida yang terbentuk pada tahap awal reaksi
oksidasi lemak. Bilangan peroksida yang tinggi mengindikasikan lemak atau
minyak sudah mengalami oksidasi, namun pada angka yang lebih rendah bukan
selalu berarti menunjukkan kondisi oksidasi yang masih dini. Angka peroksida
rendah bisa disebabkan laju pembentukan peroksida baru lebih kecil dibandingkan
dengan laju degradasinya menjadi senyawa lain, mengingat kadar peroksida cepat
mengalami degradasi dan bereaksi dengan zat lain Oksidasi lemak oleh oksigen
terjadi secara spontan jika bahan berlemak dibiarkan kontak dengan udara, sedangkan
kecepatan proses oksidasinya tergantung pada tipe lemak dan kondisi
penyimpanan. Minyak curah terdistribusi tanpa kemasan, paparan oksigen dan
cahaya pada minyak curah lebih besar dibanding dengan minyak kemasan. Paparan
oksigen, cahaya, dan suhu tinggi merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi
oksidasi. Penggunaan suhu tinggi selama penggorengan memacu terjadinya oksidasi
minyak. Kecepatan oksidasi lemak akan bertambah dengan kenaikan suhu dan
berkurang pada suhu rendah.
Peroksida terbentuk pada tahap inisiasi oksidasi, pada tahap ini
hidrogen diambil dari senyawa oleofin menghasikan radikal bebas. Keberadaan
cahaya dan logam berperan dalam proses pengambilan hidrogen tersebut. Radikal
bebas yang terbentuk bereaksi dengan oksigen membentuk radikal peroksi,
selanjutnya dapat mengambil hidrogen dari molekul tak jenuh lain menghasilkan
peroksida dan radikal bebas yang baru.
Peroksida dapat mempercepat proses timbulnya bau tengik dan
flavor yang tidak dikehendaki dalam bahan pangan. Jika jumLah peroksida lebih
dari 100 meq peroksid/kg minyak akan bersifat sangat beracun dan mempunyai bau
yang tidak enak. Kenaikan bilangan peroksida merupakan indikator bahwa minyak
akan berbau tengik.
·
ANGKA ASAM LEMAK BEBAS
Asam lemak bebas
berasal dari proses hidrolisa minyak ataupun dari kesalahan proses pengolahan.
Kadar asam lemak yang tinggi berarti kualitas minyak tersebut semakin rendah.
Penentuan kadar asam lemak bebas dalam minyak ini bertujuan untuk menentukan
kualitas minyak. Penentuan kadar asam lemak bebas ini berdasarkan pada jenis
asam lemak apa yang paling dominan dalam sampel minyak atau lemak yang
digunakan. Penentuan asam lemak dapat dipergunakan untuk mengetahui kualitas
dari minyak atau lemak, hal ini dikarenakan bilangan asam dapat dipergunakan
untuk mengukur dan mengetahui jumLah asam lemak bebas dalam suatu bahan atau
sample.Semakin besar angka asam maka dapat diartikan kandungan asam lemak bebas
dalam sample semakin tinggi, besarnya asam lemak bebas yang terkandung dalam
sampel dapat diakibatkan dari proses hidrolisis ataupun karena proses
pengolahan yang kurang baik.Menurut Ketaren (2008) lema dengan
kadar asam lemak bebas lebih besar dari 1%. Jika dicicipi akan terasa membentuk
film pada permukaan lidah dan tidak berbau tengik. Namun intensitasnya tidak
bertambah dengan bertambahnya jumLah asam lemak bebas. Asam lemak bebas,
walaupun berada dalam jumLah kecil mengakibatkan rasa tidak lezat. Hal ini
berlaku pada lemak yang mengandung asam lemak tidak dapat menguap dengan jumLah
atom 5 lebih besar dari 14 (5 > 14). Penentuan kualitas minyak (murni)
sebagai bahan makanan yang berkaitan dengan proses ekstraksinya, atau ada
tidaknya perlakuan pemurnian lanjutan misalnya penjernihan (refining),
penghilangan bau (deodorizing), penghilangan warna (bleaching), dan sebagainya.
Penentuan tingkat kemurnian minyak ini sangat berhubungan erat dengan kekuatan
daya simpanya, sifat gorengannya, baunya maupun rasanya. Tolok ukur kualitas
ini termasuk angka asam lemak bebas (Free Fatty Acids atau FFA), bilangan
peroksida, tingkat ketegikan dan kadar air (Sudarmadji,et. al., 2007).
Peningkatan jumLah asam lemak bebas ini terjadi bila minyak goreng teroksidasi ataupun terhidrolisis sehingga mengakibatkan ikatan rangkap yang ada dalam minyak akan pecah. Pecahnya ikatan rangkap ini lama-kelamaan akan membuat minyak goreng menjadi semakin jenuh. Penggunaan minyak kelapa sawit sebagai minyak goring cukup menguntungkan. Adanya karoten dan tokoferol yang terkandung di dalamnya menyebabkan minyak kelapa sawit ini perlu dikembangkan sebagai sumber vitamin. Karoten dan tokoferol ini diketahui dapat meningkatkan kemantapan minyak terhadap oksidasi dengan kata lain menyebabkan minyak tidak mudah tengik. Selain itu minyak kelapa sawit dapat dikatakan sebagai minyak goreng non kolesterol (kadar kolesterolnya rendah) (Penebar swadaya, 1992).
· MINYAK
JELANTAH
Minyak jelantah adalah minyak goreng
yang digunakan berulang kali untuk menggoreng, dan biasanya berwarna menjadi
kehitaman. Menggunakan minyak jelantah untuk menggoreng berbahaya bagi
kesehatan. Dalam kehidupan sehari-hari, jika kita membeli makanan atau gorengan,
bisa saja minyak yang digunakan adalah minyak jelantah.
Penggunaan minyak goreng secara
berulang merupakan hal yang biasa ditemukan pada warung-warung atau pedagang
kaki lima untuk menggoreng dagangannya, misalnya pedagang gorengan, tahu, ayam
goreng, dan lain-lain. Untuk membedakan minyak jelantah dengan minyak yang
layak dikonsumsi anda lihat saja pada saat pedagang menggoreng dagangannya,
kalau minyaknya sudah hitam, pasti mereka menggunakan minyak jelantah.
Asal minyak jelantah bisa saja merupakan
minyak sisa menggoreng sebelumnya atau bahkan sekarang ini banyak dijual minyak
goreng bekas. Misalnya, minyak bekas penggorengan dari rumah makan cepat saji.
Setelah melalui pengolahan, misalnya mencampurkannya dengan kaporit, maka
minyak jelantah tersebut akan menjadi bening kembali dan siap untuk dijual.
Penggunaan minyak jelantah jelas
sangat tidak baik untuk kesehatan. Seharusnya minyak goreng yang digunakan
untuk menggoreng ikan atau makanan yang lainnnya tidak boleh melebihi sampai
tiga kali penggorengan. Karena setiap dipakai minyak akan mengalami penurunan
mutu.
Kadar lemak tak jenuh dan Vitamin A,
D, E, dan K yang terdapat di minyak semakin lama akan semakin berkurang.Dan
yang tersisa tinggal asam lemak jenuh yang dapat menyebabkan penyakit seperti
jantung koroner dan stroke. Beberapa penelitian menyatakan bahwa minyak
jelantah mengandung senyawa karsinogenik yang dapat menyebabkan penyakit
kanker. Makanya kita sebaiknya lebih berhati-hati dalam membeli.
Minyak goreng yang belum digunakan
tersusun atas asam lemak tidak jenuh atau asam lemak yang mengandung ikatan
rangkap. Derajat ketidakjenuhan minyak berkurang seiring bertambahnya suhu
bahkan pemanasan dapat menyebabkan rantai-rantai asam lemak putus menjadi
radikal-radikal bebas yang berbahaya bagi kesehatan.
Berdasarkan penelitian yang
dilakukan pemanasan pada minyak (yang belum digunakan) selama 30 menit dengan
suhu di atas 125 derajat celcius dapat menyebabkan munculnya senyawa-senyawa
baru yang beracun bagi tubuh dari pemutusan rantai-rantai asam lemak. Salah
satu senyawa yang beracun yaitu trans 2-hidroksil oktenal (HNE). Senyawa ini
sangat berbahaya karena mudah diserap oleh tubuh dan bersifar racun (toksit)
terhadap biomolekul-biomolekul di dalam tubuh seperti DNA dan protein. selain itu
pemanasan terus menerus terhadapat minyak dapat menghasilkan pula beberapa
senyawa lain yang bersifat toksit terhadap tubuh yakni 4-hifroksihekseksal,
4-hidroksioktenal dan hepta 2,4-dienal.
Bahaya minyak jelantah
Meski sebenarnya minyak jelantah
dapat diolah kembali melalui proses filterisasi, sehingga warnanya kembali
jernih dan seolah seperti minyak goreng baru, namun kandungannya tetap
mengalami kerusakan sehingga tidak baik bagi tubuh. Ketika orang mengkonsumsi
jenis minyak ini, maka dapat berpengaruh pada munculnya asam lemak trans yang
akan mempengaruhi HDL kolesterol, LDL kolesterol serta total kolesterol yang
merupakan sistem metabolisme darah dan ini terjadi lewat sebuah proses tahapan
berupa penumpukan yakni penyumbatan pembuluh darah yang pada akhirnya berujung
pada penyakit jantung.
Minyak jelantah memiliki kandungan
peroksida yang tinggi, hal ini bisa terjadi salah satunya disebabkan oleh
pemanasan yang melebihi standar. Standar proses penggorengan normalnya berada
dalam kisaran suhu 177 - 221 derajat celcius. Sedangkan kebanyakan orang justru
menggunakan minyak goreng pada suhu antara 200-300 derajat celcius. Pada suhu
seperti ini, ikatan rangkap pada asam lemak tak jenuh rusak kemudian akan
teroksidasi, membentuk gugus peroksida dan monomer siklik, sehingga yang
tersisa adalah asam lemak jenuh saja. Dalam hal ini, resiko terhadap
meningkatnya kolesterol darah tentu akan semakin tinggi.
Secara kimia, minyak jelantah sangat
berbeda dengan minyak sawit yang belum digunakan untuk menggoreng. Pada minyak
sawit terdapat sekitar 45, 5 persen asam lemak jenuh yang didominasi oleh asam
lemak palmitat dan sekitar 54,1 persen asam lemak tidak jenuh yang didominasi
oleh asam lemak oleat (sering disebut omega-9).
Pada minyak jelantah, angka asam
lemak jenuhnya jauh lebih tinggi dari angka asam lemak tidak jenuh. Asam lemak
jenuh sangat berbahaya bagi tubuh karena dapat memicu berbagai penyakit,
seperti penyakit jantung, dan stroke.
Pada proses penggorengan pertama,
minyak mengandung asam lemak tidak jenuh yang cukup tinggi. Pada penggorengan
berikutnya, asam lemak jenuh akan meningkat. Proses pemanasan minyak pada suhu
tertentu, ketika dipakai untuk menggoreng akan memutuskan sebagian ikatan
rangkap (tidak jenuh) menjadi ikatan tunggal (jenuh).
Minyak goreng yang digunakan lebih
dari empat kali akan mengalami oksidasi. Proses oksidasi tersebut akan
membentuk gugus peroksida, asam lemak trans, dan asam lemak bebas. Penelitian
pada hewan percobaan menunjukkan gugus peroksida dalam dosis besar dapat
merangsang terjadinya kanker usus besar.
Minyak goreng yang telah digunakan,
akan mengalami beberapa reaksi yang menurunkan kadar mutunya. Pada suhu
pemanasan, akan membentuk akrolein, yakni sejenis aldehid yang dapat
menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan. Minyak goreng sisa atau lebih dikenal
dengan minyak jelantah ini telah mengalami penguraian molekul-molekul, sehingga
titik asapnya turun drastis. Karena jelantah itu mudah mengalami oksidasi, maka
jika disimpan akan cepat berbau tengik. Selain itu, jelantah juga disukai jamur
aflatoksin sebagai tempat berkembangbiak. Jamur ini menghasilkan racun
aflatoksin yang dapat menyebabkan berbagai penyakit, terutama pada hati atau
liver. Minyak jelantah jika ditinjau dari komposisi kimianya, mengandung
senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik penyebab kanker.
Berikut ini ada beberapa tips yang
perlu anda perhatikan sebelum membeli minyak:
· Minyak jelantah warnanya kuning agak
kemerah – merahan, sedangkan minyak curah asli berwarna kuning.
· Minyak curah yang berasal dari
minyak jelantah agak cair dan tidak kental seperti minyak curah asli.
· Minyak jelantah tidak berbuih,
caranya pada saat anda membeli minyak anda kocok – kocok minyak terlebih
dahulu, bila terdapat buih-buih berwarna putih maka dapat dipastikan itu
minyak curah asli.
· Pada minyak curah jelantah berbau
kurang segar, sedangkan pada minyak curah asli tidak berbau sama sekali.
VI.
ALAT DAN BAHAN
-
Alat
No.
|
Nama Alat
|
Spesifikasi
|
JumLah (buah)
|
1.
|
Gelas kimia
|
100 mL
|
1
|
2.
|
Erlenmeyer
|
100 mL
|
4
|
3.
|
Gelas ukur
|
10 mL
|
1
|
4.
|
Corong kaca
|
1
|
|
5.
|
Buret
|
1
|
|
6.
|
Statif
|
1
|
|
7.
|
Klem
|
1
|
|
8.
|
Pipet tetes
|
Secukupnya
|
-
Bahan
No.
|
Nama Bahan
|
Keterangan
|
1.
|
Minyak Jelantah
|
|
2.
|
Asam Asetat Kloroform
|
|
3.
|
KI jenuh
|
|
4.
|
Na2S2O3
|
0,05 M
|
5.
|
NaOH
|
0,1 M
|
6.
|
Indikator PP
|
1 %
|
7.
|
Etanol
|
96%
|
8.
|
Amilum
|
VII. ALUR
PERCOBAAN
1.
Penentuan
Angka Peroksida
Minyak
jelantah
|
- ditimbang 2 gram dalam erlenmeyer
- ditambah asam asetat kloroform
- digoyangkan sampai bahan larut
sempurna
- ditambahkan 0,5 mL larutan KI
jenuh
- didiamkan 20 menit dengan
sekali-kali digoyang
- ditambahkan 30 mL aquades
- dititrasi dengan Na2S2O3
sampai warna kuning hampir hilang
|
Warna
Kuning Muda
|
-
ditambahkan 0,5 mL larutan
pati
-
dititrasi lagi dengan Na2S2O3
sampai jernih
-
dicatat
volume
-
dihitung
angka peroksida
|
Bilangan
Peroksida
|
Minyak
jelantah
|
- ditimbang 2 gram dalam erlenmeyer
- ditambah asam asetat kloroform
- digoyangkan sampai bahan larut
sempurna
- ditambahkan 0,5 mL larutan KI jenuh
- didiamkan 20 menit dengan
sekali-kali digoyang
- ditambahkan 30 mL aquades
- dititrasi dengan Na2S2O3
sampai warna kuning hampir hilang
|
Warna
Kuning Muda
|
-
ditambahkan 0,5 mL larutan
pati
-
dititrasi lagi dengan Na2S2O3
sampai jernih
-
dicatat
volume
-
dihitung
angka peroksida
|
Bilangan
Peroksida
|
2. Penentuan Asam Lemak Bebas
Minyak jelantah
|
-
diaduk merata dalam keadaan
cair
-
ditimbang 2 gram dalam
erlenmeyer
-
ditambah 10 mL alkohol 96%
dan 5 tetes indikator PP
-
dititrasi dengan larutan 0,5
NaOH yang telah distandarisasai sampai warna merah jambu dan tidak hilang
selama 30 detik
-
|
Minyak jelantah
|
-
persen asam lemak bebeas
dinyatakan sebagai asam laurat untukminyak kelapa, asam palmitat untuk
minyak kelapa sawit
-
dihitung angka asam lemak
bebas dinyatakan sebagai % FFA
|
Minyak jelantah
|
Penentapan Blanko
Minyak jelantah
|
-
diaduk merata dalam keadaan
cair
-
ditimbang 2 gram dalam
erlenmeyer
-
ditambah 10 mL alkohol 96%
dan 5 tetes indikator PP
-
dititrasi dengan larutan 0,5
NaOH yang telah distandarisasai sampai warna merah jambu dan tidak hilang
selama 30 detik
-
|
Minyak jelantah
|
-
persen asam lemak bebeas
dinyatakan sebagai asam laurat untukminyak kelapa, asam palmitat untuk
minyak kelapa sawit
-
dihitung angka asam lemak
bebas dinyatakan sebagai % FFA
|
Minyak jelantah
|
VIII. HASIL
PENGAMATAN
No.
|
Prosedur
Percobaan
|
Hasil
Pengamatan
|
Dugaan/
Reaksi
|
Kesimpulan
|
|||||
1.
|
|
Sebelum :
-
Minyak
jelantah : kuning (++) kental
-
Asam
asetat kloroform : larutan tidak berwarna
-
KI
jenuh : larutan tidak berwarna
-
Aquades
: tidak berwarna
-
Na2S2O3
: larutan tidak berwarna
-
Amilum
1% : larutan tidak berwarna
Sesudah:
-
Minyak
jelantah + asam asetat kloroform : larutan berwarna jingga
-
Ditambah
KI jenuh : larutan tetap jingga
-
Ditambah
aquades : terbentuk 2 lapisan, berwarna kuning keruh pada lapisan atas dan
berwarna jingga pada lapisan bawah
-
Dititrasi
dengan Na2S2O3 : larutan berwarna jingga
menjadi kuning muda
-
Ditambah
larutan pati 1% : berwarna kuning jernih pada lapisan atas dan berwarna
jingga pada lapisan bawah
-
dititrasi
lagi dengan Na2S2O3 : jernih tidak berwaarna
pada lapisan atas dan berwarna kuning pada lapisan bawah. Volume yang
didapatkan:
VA = 8,1
mL ; VB = 7,7 mL ; VC = 7,6 mL
|
-
Angka
peroksida dikatakan baik apabila tidak lebih dari 2 meq
-
Titrasi
telah mencapai titik akhir ditandai dengan perubahan warna dari kuning
menjadi kuning muda
-
Reaksi
|
Sesuai, ketika dititrasi warna
larutan dari jingga menjadi kuning muda dengan lapisan bawah berwarna jingga
dan pada titrasi selanjutnya larutan bagian atas yang awalnya berwarna kuning
muda berubah menjadi jernih tidak berwarna yang menandakan telah mencapai
titik akhir titrasi.
Setetah perhitungan didapatkan
nilai peroksida minyak jelantah = 180 meq
180 meq yang menandakan kualitas
munyak jelantah kurang baik dan minyak telah terhidrolisis
|
|||||
Penetapan Blanko
|
Sebelum :
-
Asam
asetat kloroform : larutan tidak berwarna
-
KI
jenuh : larutan tidak berwarna
-
Aquades
: tidak berwarna
-
Na2S2O3
: larutan tidak berwarna
Sesudah :
-
Aquades
+ asam asetat kloroform : larutan tidak berwarna
-
Ditambah
KI jenuh : larutan tidak berwarna
-
Didiamkan
: larutan kuning jernih
-
Ditambah
aquades : terbentuk 2 lapisan, yaitu berwarna kuning pada lapisan atas dan
berwarna merah muda pada lapisan bawah
-
Dititrasi
dengan Na2S2O3 : berwarna kuning jernih pada
lapisan atas dan berwarna merah muda pada lapisan atas
-
Ditambah
pati 1% : larutan tetap terbentuk 2 lapisan, yaitu berwarna kuning pada
lapisan atas dan berwarna merah muda pada lapisan bawah
-
Dititrasi
lagi dengan Na2S2O3 : tidak berwarna pada
lapisan atas dan berwarna merah muda pada lapisan bawah
-
Didapatkan
volume titrasi Na2S2O3 : 0,6 mL
|
Blanko telah mencapai titik akhir
titrasi ditandai dengan perubahan warna dari kuning jernih dan merah muda
menjadi tidak berwarna
Reaksi :
|
Sesuai, larutan blanko setelah
dititrasi menjadi larutan tidak berwarna pda volume 0,2 mL
|
||||||
3.
|
|
Sebelum :
-
Minyak
jelantah : kuning kecoklatan kental
-
Alkohol
96% : tidak berwarna
-
Indikator
PP : larutan tidak berwarna
-
NaOH
: larutan tidak berwarna
Sesudah:
-
Sampel
ditambah alkohol : larutan tidak berwarna
-
Ditambah
PP : larutan kuning
-
Dititrasi
dengan NaOH : larutan menjdi merah jambu, didapatkan volume pada
VA = 1,2 mL; VB = 1,0 mL; VC = 1,1 mL
-
Dari
perhitungan didapatkan asam lemak A= 0,49%; B=0,40%; C= 0,44%
-
Angka
asam lemak rata-rata 0,44%
|
-
Semakin
besar rasa asam maka kandungan asam lemak bebas dalam sampel semakin tinggi
-
Angka
asam lemak maksimal 0,03% sesuai dengan SNI 01-3741-2002
|
Sesuai, kandungan asam lemak
bebeas minyak jelantah sebesar 0,44% yang menunjukkan bahwa kandungana sam
lemak bebas pada minyak jelantah tinggi.
|
|||||
Penetapan Blako
|
Sebelum :
-
Aquades
:larutan tidak berwarna
-
Alkohol
96% : tidak berwarna
-
Indikator
PP : larutan tidak berwarna
-
NaOH
: larutan tidak berwarna
Sesudah:
-
Aquades
ditambah alkohol : tidak berwarna
-
Ditambah
indikator PP : tetepa tidak berwarna
-
Dititrasi
dengan NaOH : awalnya tidak berwarna menjadi merah jambu pada volume 0,05 mL
|
Reaksi
Reaksi pada penentuan angka peroksida:
I2
dititrasi dengan Na2S2O3
2e
+ I2 ® 2I-
S2O32-®
S4O62- + 2e
I2 + 2S2O32-®
2I- + S4O62-
Proses pembentukan peroksida:
Reaksi penetralannya sebagai
berikut:
CH3(CH2)14COOH
+ NaOH ®
CH3(CH2)14COONa + H2O
IX.
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
a.
Penentuan Bilangan Peroksida
Percobaan pertama bertujuan untuk menentukan
bilangan peroksida suatu sampel, dalam hal ini adalah minyak jelantah kelapa
sawit. Langkah pertama yang dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan serta
mencucinya dengan bersih. Kemudian menimbang sampel di dalam erlenmeyer yaitu
minyak jelantah berwarna kuning kecoklatan kental seberat 2 gram dengan
menggunakan neraca digital. Setelah itu menambahkan 30 ml larutan asam asetat
kloroform berupa larutan tidak berwarna sehingga larutan menjadi berwarna
jingga. Penambahan asam asetat kloroform adalah sebagai pelarut bagi minyak
jelantah. Kemudian menggoyangkan erlenmeyer sampai sampel larut sempurna dalam
pelarut asam asetat kloroform.
Selanjutnya menambahkan sebanyak o,5
ml larutan KI jenuh tidak berwarna yang menghasilkan larutan tetap tidak
berwarna.. Penambahan KI ini berfungsi untuk membuktikan adanya
peroksida yang terbentuk pada minyak. Jika minyak telah teroksidasi dan
membentuk peroksida, maka peroksida tersebut akan mengoksidasi I-
menjadi I2.
Kemudian
mendiamkan larutan selama 20 menit dengan sesekali menggoyangkan erlenmeyer.
Hal ini bertujuan agar larutan larut sempuran karena minyak merupakan kelompok
yang termasuk pada golongan lipid , yaitu senyawa organik yang terdapat di alam
serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non-polar
misalnya, Kloroform (CHCl3), benzena dan hidrokarbon lainnya, lemak
dan minyak dapat larut dalam pelarut tersebut karena minyak mempunyai polaritas
yang sama dengan pelarut tersebut.
Setelah
20 menit, langkah selanjutnya yaitu menambahkan 30 ml aquades tidak berwarna.
Setelah penambahan aquades, larutan yang awalnya berwarna jingga, terbentuk 2
lapisan. Lapisan atas berupa berupa larutan berwarna kuning keruh dan lapisan
bawah berupa larutan berwarna jingga. Terbentuknya dua lapisan membuktikan
bahwa lipid yang terkandung dalam minyak tidak dapat larut dalam semua pelarut,
misalnya air yang bersifat polar. Langkah selanjutnya yaitu menitrasi sampel
dengan Na2S2O3 0,01 N tidak berwarna. Titrasi dilakukan 3x yang
menghasilkan warna larutan lapisan bagian atas berwarna kuning muda dan lapisan
bawah yang merupakan fase minyak tetap jingga. Perubahan warna dari kuning
keruh menjadi kuning muda menandakan titrasi telah melewati titik ekivalen yang
pertama dan mencapai titik akhir titrasi awal pada volume Na2S2O3
VA= 0,3 ml
VB= 0,2 ml
Vc= 0,2 ml
Setelah itu menambahkan larutan pati
1% tidak berwarna ke dalam setiap erlenmeyer sebanyak 0,5 ml. Hasilnya larutan
bagian atas yang awalnya kuning muda menjadi kuning jernih sedangkan lapisan
bawah tetap jingga. Penambahan pati berfungsi sebagai indikator adanya I2
yang terbentuk.
Kemudian menitrasi kembali dengan Na2S2O3
sehingga larutan bagian atas menjadi jernih tidak berwarna dan lapisan
minyak bawah tetap berwarna jingga. Senyawa Na2S2O3
dapat
mereduksi I2 yang terbentuk menjadi I- sehingga larutan
menjadi berwarna jernih kembali. Didapatkan volume
yang kedua sebesar
VA= 7,8 ml
VB= 7,5 ml
VC= 7,6 ml
Perubahan warna yang terjadi
menunjukkan proses titrasi telah melewati titik ekivalen yang kedua dan telah
mencapai akhir titrasi. Pada proses ini terjadi reaksi redoks dengan iodoform I2(aq) + 2S2O32-(aq)
→ 2I-(aq) + S4O62-(aq). Pada
Dari volume yang didaapt
dapat diketahui bialngan peroksida sampel yaitu minyak jelantah berdasarkan
jumlah Iodin yang dibebaskan dari KI melalui reaksi oksidasi oleh peroksida
dalam lemak/minyak pada suhu ruang dalam emdium asam asetat kloroform. Bilangan
peroksida dicari utntuk mengetahui tingkat kerusakan minyak, diaman kerusakan
ini erjadi akibat reaksi oksidasi yang menghasilkan peroksida, asam lemak,
aldehid dan keton. Nilai peroksida menunjukkan jumlah peoksida yang terkadung
dalam minyak. Semakin tinggi bilangan peroksida maka kualitas minyak akan
semakin jelak. Angka peroksida dikatakan baik apabila tidak melebihi 2 meq
berdasarkan SNI
01-3741-2002.
Dari perhitungan didapatkan nilai
peroksida menggunaakan rumus perhitungan
VA= 187,5 meq
VB= 177,5 meq
VC= 175 meq
Sehingga bilangan peroksida
rata-rata sebesar 180 meq. Angka ini diakatakan tinggi dan jauh dari batas
maksimal yaitu 2 meq. Hal ini menunjukkan bahwa sampel minyak jelantah memiliki
kualitas yang kurang baik karena telah teroksidasi dengan udara. Hal tersebut
menandakan bahwa minyak telah rusak. Pada
minyak yang rusak terjadi proses oksidasi, polimerisasi dan hidrolisis. Proses
tersebut menghasilkan peroksida yang bersifat toksik dan asam lemak bebas yang
sukar dicerna oleh tubuh.
Penetapan Blanko
Dengan langkah yang sama dibuat
suatu larutan blanko hanya saja dengan mengganti sampel dengan aquades tidak
berwarna. Blanko digunakan sebagai sampel pebanding dari sampel yang diuji. Langkah
pertama yaitu menimbang aquades seberat 2 gram. Setelah itu menambahkan 30 ml larutan asam asetat kloroform berupa
larutan tidak berwarna sehingga larutan tetap tidak berwarna. Penambahan asam
asetat kloroform adalah sebagai pelarut. Kemudian menggoyangkan erlenmeyer
sampai sampel larut sempurna dalam pelarut asam asetat kloroform.
Selanjutnya menambahkan sebanyak 0,5
ml larutan KI jenuh tidak berwarna yang menghasilkan larutan tetap tidak
berwarna.. Penambahan KI ini berfungsi untuk membuktikan adanya
peroksida yang terbentuk.
Kemudian
mendiamkan larutan selama 20 menit dengan sesekali menggoyangkan erlenmeyer.
Hal ini bertujuan agar larutan larut sempuran.
Setelah
20 menit, langkah selanjutnya yaitu menambahkan 30 ml aquades tidak berwarna.
Setelah penambahan aquades, larutan yang awalnya tidak berwarna terbentuk 2
lapisan. Lapisan atas berupa larutan berwarna kuning dan lapisan bawah berupa
larutan berwarna merah muda. Langkah selanjutnya yaitu menitrasi sampel dengan
Na2S2O3 0,01 N tidak
berwarna. Titrasi dilakukan menghasilkan warna larutan lapisan bagian atas
berwarna kuning muda dan lapisan bawah merah muda pada volume 0,2 ml.
Setelah itu menambahkan larutan pati
1% tidak berwarna ke dalam erlenmeyer blanko sebanyak 0,5 ml. Hasilnya larutan
bagian atas kuning sedangkan lapisan bawah tetap merah muda. Penambahan pati berfungsi
sebagai indikator adanya I2 yang terbentuk.
Kemudian menitrasi kembali dengan Na2S2O3
sehingga larutan bagian atas menjadi jernih tidak berwarna dan lapisan
minyak bawah tetap berwarna jingga. Senyawa Na2S2O3
dapat
mereduksi I2 yang terbentuk menjadi I- sehingga larutan
menjadi berwarna jernih kembali. Didapatkan volume
titrasi kedua 0,4 ml. Perubahan
warna yang terjadi menunjukkan proses titrasi telah melewati titik ekivalen
yang kedua dan telah mencapai akhir titrasi.
Pada penentuan bilangan peroksida,
titrasi dilakukan 2x, yaitu sebelum ditambahkan pati dan setelah ditambahkan
pat. Hal ini disebabkan senyawa penitrasi Na2S2O3 memiliki
2 ekivalen, sehingga terdapat 2 titik ekivalen yang harus ditempuh dalam satu
kali titrasi. Volume total blanko, yaitu 0,6 ml ini nantinya digunakan dalam
penghitungan penentuan bilangan peroksida sampel minyak jelantah.
b.
Penentuan Bilangan Asam Lemak Bebas
Percobaan kedua bertujuan untuk
menentukan angka asam lemak yang terkandung dalam sampel dalam hal ini yaitu
minyak jelantah dari kelapa sawit. Langkah pertama yang dilakukan adalah
menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan lalu mencucinya hingga bersih.
Kemudian menimbang seberat 2 gram dalam erlenmeyer sampel yaitu minyak jelantah
berwarna kuning kecoklatan. Setelah itu menambahkan 10 ml alkohol 96% tidak
berwarna dan 5-6 tetes indikator PP tidak berwarna sehingga larutan minyak
menjadi berwarna kuning. Penambahan alkohol berfungsi sebagai pelarut sedangkan
fungsi penambahan PP adalah sebagai indikator perubahan warna saat dititrasi
dengan NaOH sehingga dapat diketahui titik akhir titrasi.
Langkah berikutnya yaitu menitrasi
saampel yaitu minyak jelantah dengan NaOH 0,5 N tidak berwarna. Larutan yang
awalnya kuning berubah warna menjadi merah jambu pada volume
VA= 0,1 ml
VB= 1 ml
VC= 1,1 ml
Setelah itu dihitung angka lemak bebas menggunakan persamaan
Sehingga didapatkan angka lemak bebas pada masing-masing
erlenmeyer sebesar
VA= 0,49%
VB= 0,40%
VC= 0,44%
Jadi rata-rata angka lemak bebas
pada minyak jelantah adalah sebesar 0,49%. Diketahui berdasarkan SNI
01-3741-2002 angka asam lemak maksimal sebesar 0,03%. Semakin besar angka asam
maka kandungan asam lemak bebas dalam sampel semakin tinggi. Jika angka lemak
bebas tinggi hal itu menunjukkan kualitas minyak yang tidak baik. Asam lemak bebas menunjukkan sejumLah asam lemak
bebas yang dikandung oleh minyak yang rusak, terutama karena peristiwa oksidasi
dan hidrolisis.
Penetapan Blanko
Dengan langkah yang sama dibuat suatu larutan
blanko hanya saja dengan mengganti sampel dengan aquades tidak berwarna. Blanko
digunakan sebagai sampel pebanding dari sampel yang diuji. Langkah pertama yang dilakukan adalah menyiapkan alat dan
bahan yang akan digunakan lalu mencucinya hingga bersih. Kemudian menimbang seberat 6 gram dalam erlenmeyer aquades tidak berwarna. Setelah itu menambahkan 10 ml
alkohol 96% tidak berwarna dan 5-6 tetes indikator PP tidak berwarna sehingga
larutan tetap tidak berwarna. Penambahan alkohol berfungsi sebagai pelarut
sedangkan fungsi penambahan PP adalah sebagai indikator perubahan warna saat
dititrasi dengan NaOH sehingga dapat diketahui titik akhir titrasi.
Langkah berikutnya yaitu menitrasi
aquades dengan NaOH 0,5 N tidak berwarna. Larutan yang awalnya tidak berwarna
berubah warna menjadi merah jambu pada volume 0,05 ml.
X.
KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah
dilakukan dapat ditarik kesimpulan yaitu bilangan peroksida dan angka asam lemak
bebas suatu sampel dapat ditentukan dengan metode titrasi Iodometri.
1.
Minyak
jelantah dari kelapa sawit yang digunakan dalam peercobaan memiliki bilangan
peroksida 180 meq, sedangkan bialngan maksimal peroksida adalah 2 meq.
2.
Minyak
jelantah yang digunakan dalam peercobaan memiliki angka asam lemak bebas 0,44%
batas maksimal angka asam lemak bebas 0,3%.
Hal ini menunjukkan bahwa kualitas minyak sudah kurang baik
dan sudah tidak dapat digunakan kembali.
LAMPIRAN
DOKUMENTASI PRCOBAAN
No.
|
Gambar
|
Keterangan
|
1.
|
Sampel minyak jelantah berwarna
kuning kecoklatan
|
|
Penentuan
Bilangan Peroksida
|
||
2.
|
Menimbang sampel seberat ± 2 gram
|
|
3.
|
Sampel Minyak jelantah ditambahkan asam asetat kloroform
|
|
4.
|
Sampel Minyak jelantah setelah
ditambahkan asam asetat kloroform = larutan berwarna jingga
|
|
5.
|
Setelah penambaahn KI jenuh =
larutan tetap jingga
|
|
6.
|
Setelah didiamkan 20 menit sambil
sesekali digoyang
|
|
7.
|
Setelah
ditambahkan aquades terbentuk 2 lapisan: lapisan atas kuning keruh, lapisan
bawah jingga
|
|
8.
|
Setelah dititrasi dengan Na2S2O3
= larutan kunng muda
|
|
9.
|
Setelah ditambahkan pati : lapisan
atas kuning jernih lapisan, bawah jingga
|
|
10.
|
Setelah dititrasi lagi dengan Na2S2O3
= lapisan atas jernih, lapisan
bawah jingga
|
|
11.
|
Menimbang blanko
|
|
12.
|
Blanko setelah ditambah asam
asetat kloroformm = larutan tidak berwarna
|
|
13.
|
Blanko setelah ditambahkan
aquades, terbentuk 2 lapisan : lapisan atas kuning, lapisan bawah merah muda
|
|
14.
|
Blanko setelah dititrasi dengan Na2S2O3
= lapisan atas kuning jernih , lapisan bawah merah muda
|
|
PENENTUAN ASAM LEMAK BEBAS
|
||
15.
|
Menimbang sampel (minyak jelantah)
6 gram
|
|
16.
|
Menimbang blanko tidak berwarna
|
|
17.
|
Ditambahkan alkohol(etanol)
Sampel: kuning
Blanko tidak: berwarna
|
|
18.
|
Ditambahkan PP
Sampel: kuning
Blanko: tidak berwarna
|
|
19.
|
Setelah dititrasi dengan NaOH,
Blanko merah jambu
|
|
20.
|
Setelah dititrasi dengan NaOH,
sampel merah jambu
|
|
LAMPIRAN
PERHITUNGAN BILANGAN PEROKSIDA DAN ANGKA ASAM LEMAK
1)
Menentukan Angka
Peroksida
Angka
peroksida =
Diketahui
:
Na2S2O3 = 0,05 N Berat sampel = 2 gram
Erlenmeyer
|
Volume
Titrasi I
|
Volume
Titrasi II
|
Jumlah
Volume
|
A
|
0,3 mL
|
7,8 mL
|
8,1 mL
|
B
|
0,2 mL
|
7,5 mL
|
7,7 mL
|
C
|
0,2 mL
|
7,6 mL
|
7,6 mL
|
Blanko
|
0,2 mL
|
0,4 mL
|
0,6 mL
|
Ditanya
: Angka peroksida?
Jawab
:
VA : Angka peroksida =
=
=
= 187,5 meq
VB : Angka peroksida =
=
=
= 177,5 meq
VC : Angka peroksida =
=
=
= 175 meq
Angka
peroksida rata-rata =
=
= 180 meq
2)
Asam Lemak Bebas
% FFA
=
x
100%
Diketahui
:
NaOH = 0,1 N V blanko =
0,05 mL
VA NaOH = 1,2 mL VB NaOH = 1 mL
VC NaOH = 1,1 mL BM As. Lemak = 256
Berat sampel = 6 gram
Ditanya
: % FFA asam lemak bebas ?
Jawab
:
VA : % FFA =
x
100%
=
x
100% =
x
100%
= 0,49 %
VB : % FFA =
x
100%
=
x
100% =
x
100%
= 0,40 %
VC : % FFA =
x
100%
=
x
100% =
x
100%
= 0,44 %
%
FFA rata-rata =
= 0,44
%
DAFTAR
PUSTAKA
Arie.
2012. Kimia Lemak dan Minyak. http://pengolahanpangan.blogspot.com/2012/01/kimia-lemak-dan-minyak.htmL. Diakses 20 November 2014
Ahmad,
Toha. 2014. Bahaya Menggunakan Minyak Jelantah. http://www.smallcrab.com/kesehatan/1184-bahaya-menggunakan-minyak-jelantah. Diakses 20 November 2014
Diyyah.
2011. Biokimia Lipid. http://dhiyahblogger.blogspot.com/2011/08/biokimia-lipid.htmL. Diakses 20 November 2014
Gunawan dkk. 2003. Analisis Pangan: Penentuan Angka Peroksida dan Asam Lemak Bebas Pada
Minyak Kedelai Dengan Variasi Menggoreng. JSKA.Vol.VI.No.3.Tahun.2003
Lavita. 2012. Penentuan Bilangan Peroksida
pada Mminyak Goreng. http://declavita.blogspot.com/2012/11/penentuanbilangan-peroksida-pada.htmL . Diakses 20 November 2014
Lehninger, Albert L. 1982. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: ERLANGGA
Sagita.
2012. Angka Asam pada Minyak. http://gittha21.blogspot.com/2012/11/angka-asam-pada-minyak.htmL. Diakses 20 November 2014
TIM Dosen Biokimia. 2012. Petunjuk Praktikum Biokimia. Surabaya : FMIPA
KIMIA UNESA
Veronika.
2012. Biokimia Lipid. http://veronikafoju.wordpress.com/i-love-biology/biokimia/biokimia-lipid/. Diakses 20 November 2014
Yazid, Estien dan Nursanti, Lisda. 2006. Penuntun Praktikum Biokimia
untuk Mahasiswa Analis. Yogyakarta: ANDI

Komentar