.Percakapan Hati. Fariz-Kinara
.Percakapan Hati.
Fariz~Kinara
Aku
berjalan diantara gunung-gunung. Kau berlayar.
Aku
menyelami dalamnya samudera. Kau terbang.
Begitu
rumitkah kisah kita?
Sejauh
kita berlari. Sekeras apapun kita mendaki. Nyatanya jalan kita tak pernah
searah. Seperti jalan yang selalu bertanda. Berhenti, dilarang, atau jalan
terus. Manakah tanda yang akan kita pilih? Berhenti berbuat karena sesuatu yang
dilarang dan kepastian akan kegagalan di deapan mata? Atau terus berjalan
meskipun tau tak akan ada titik temu? Manakah yang akan kita pilih?
Kalau
aku, aku akan diam. membuat kesepakatan denganmu. Aku tidak mau berhenti
sendirian. Dan tidak akan membiarkanmu berjalan sendirian. Kita harus berhenti
bersama atau berjalan bersama. Karena sekarang pun kita harusnya masih bersama.
11/11/2015
11:47
“Aku akan pergi jauh.”
“Kemana?” kata Kak Fariz sore itu
sambil tetap mengelap lensa kamera SLRnya tanpa memandangku sama sekali.
“Ke Medan” jawabku singkat tanpa
melepaskan kedua bola mataku dari matanya yang masih tetap tidak memandangku.
“Berapa lama?” kali ini dia
menghentikan kegiatan tangannya.
“Sampai aku lulus kuliah.”
Dia menoleh ke kanan. Memandangku.
Melihat sebentar ke arah mataku, “pergilah”. Kemudian berpaling lagi.
Aku menunduk. Menyisir rambut dengan
jemariku sendiri. Seperti dugaanku, dia tidak akan menahanku. Meskipun aku tau
aku tetap akan pergi. Aku ingin melihat dia sedih akan kehilanganku. Merengek
agar aku tetap tinggal. Meskipun nyatanya aku akan tetap pergi. Tapi dia tidak.
Mungkin dia tidak benar-benar menginginkanku. Mungkin aku tidak berarti
baginya.
####
Aku
tiduran santai diantara rerumputan.
Mencumbui
hembusan angin yang membelai lembut.
Bercinta
dengan kedamaian malam.
Kau
berlari seakan maut menghampiri.
Terbakar
api yang kau ciptakan sendiri.
Santailah
sedikit, aku akan membagi tempat di sebelahku untuk menikmati rumput
bersama-sama. Kita bercumbu dengan angin yang membuat rambut cantikmu
berantakan, tak apa, aku akan merapikannya dngan jari-jari kasarku. Kita
bercinta dengan malam yang sunyi. Membuatnya sedikit marah dan meredakan
panasnya hatimu.
11/11/2015
20:39
“Sudah sampai rumah?” tanyaku di sms.
Hpku berbunyi. Nada sms masuk. “Sudah”
jawab Kinara singkat.
“Ya sudah istirahat. Aku capek juga
mau tidur”. Tidak ada balasan darinya.
Kinara akan pergi seminggu lagi. Pergi
meninggalkanku jauh. Jauh dan lama. Aku tidak tau apakah aku akan sabar dan
kuat bertahan. Aku terlalu bergantung padanya 2 tahun ini. Ketika dia pergi aku
pasti akan sangat rapuh. Tapi apa yang bisa kuperbuat. Aku tak sekuat itu untuk
menahannya. Aku tak sekuat itu.
###
Komentar